The Color Purple is one of the famous novels by Alice Walker. The novel tells Celie's life as a black woman who is discriminated against by the surrounding social environment. However, he continued to struggle and in the end was able to achieve freedom. The novel is famous not only because of the name Alice Walker as its author, but also because the book has a lot of moral messages. One such me…
San Piedro Island, north of Puget Sound, is a place so isolated that no one who lives there can afford to make enemies. But in 1954 a local fisherman is found suspiciously drowned, and a Japanese American named Kabuo Miyamoto is charged with his murder. In the course of the ensuing trial, it becomes clear that what is at stake is more than a man's guilt. For on San Pedro, memory grows as thickl…
Buku ini memuat skenario perjalanan hidup penyair Chairil Anwar, mulai dari masa-masa kecilnya bersama nenek dan ibunya, ketika beranjak menjadi pemuda liar, dan masa di mana ia sempat angkat senjata untuk berjuang melawan penjajah, hingga pembuktian kedewasaannya melalui kisah cinta romantis bersama wanita-wanita yang pernah hidup dengannya. Begitupun ketika TBC merenggut nyawanya.
Cinta adalah kisah Bill Cosey, seorang pemilik hotel yang karismatik tetapi sudah mati. Atau lebih tepatnya, ini tentang orang-orang di sekitarnya, semua dipengaruhi oleh hidupnya - bahkan lama setelah kematiannya. Tokoh utama adalah Christine, cucunya dan Heed, jandanya. Keduanya seusia dan dulu berteman, tetapi sekitar empat puluh tahun setelah kematian Cosey, mereka adalah musuh bebuyutan, n…
Novel ini merupakan novel kedua dari serangkaian trilogi Jendela-Pintu-Atap. Djati Suryo Wibowo, seorang lelaki yang akrab disapa Bowo, Bo atau B, dianggap istimewa dengan alasan terlahir sebagai bayi kuning pada saat weton Sabtu Pahing, dan memiliki neptu Jawa tertinggi. Ketika berumur setahun kepandaiannya sudah menyamai anak berumur tiga tahun. Hal-hal yang tak kasat mata pun bisa dilihat ol…
Setelah dilarang pulang ke tanah airnya pasca Perang Enam Hari tahun 1967, penyair Mourid Barghouti menghabiskan tiga puluh tahun masa hidupnya dalam pembuangan—mengembara ke kota-kota dunia, tanpa merasakan kedamaian di kota manapun; tercerai dari keluarga bertahun-tahun; tak pernah bisa memastikan apakah dia seorang pelancong, pengungsi, warga, atau seorang tamu. Ketika berhasil pulang keIs…