Text
SKRIPSI: Transendensi Tokoh Utama Perempuan dalam Novel The Women Could Fly Karya Megan Giddings (2021)
Penelitian ini menganalisis bentuk transendensi tokoh utama perempuan serta bagaimana transendensi tersebut menjadi bentuk resistensi terhadap wacana dominan dalam novel The Women Could Fly (2022) karya Megan Giddings. Novel ini menggambarkan masyarakat distopia yang mengontrol kehidupan perempuan melalui aturan negara, pengawasan lembaga Bureau of Witchcraft, serta tekanan sosial terhadap pernikahan sebagai standar moral perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik sastra feminis, khususnya teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir mengenai konsep immanence dan transcendence, serta didukung teori representasi Stuart Hall dan social labeling theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama, Josephine Thomas, mengalami berbagai bentuk kontrol dan diskriminasi berbasis gender melalui regulasi negara, stigma sosial sebagai "penyihir", dan pembatasan pilihan hidup. Namun, Josephine memperlihatkan proses transendensi melalui kesadaran kritis, penolakan terhadap norma pernikahan, penguatan subjektivitas, serta penerimaan identitas dirinya termasuk makna sihir sebagai bagian dari eksistensinya. Transendensi tersebut menjadi bentuk resistensi terhadap wacana dominan yang memosisikan perempuan sebagai ancaman dan objek pengawasan. Dengan demikian, novel ini menegaskan bahwa perempuan dapat menjadi subjek yang otonom dengan melampaui struktur patriarki dan kontrol sosial, sekaligus memperlihatkan pentingnya kebebasan eksistensial dalam perjuangan perempuan di masyarakat modern.
Tidak tersedia versi lain