Text
SKRIPSI: Bahasa dan Kekuasan: Analisis Wacana kritis dalam Monster: The Jeffrey Dahmer Story (2022)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pilihan kebahasaan dalam serial Monster: The Jeffrey Dahmer Story merepresentasikan dan mereproduksi relasi kuasa antara kelompok dominan dan kelompok minoritas, khususnya komunitas kulit hitam, Asia Amerika, dan LGBTQ+, Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough yang mencakup analisis pada level teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Data berupa tuturan verbal dalam dialog dan narasi serial yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dengan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi kuasa direalisasikan melalui berbagai strategi linguistik, seperti penggunaan kalimat imperatif yang mengontrol tindakan korban (misalnya "stay where you are"), pelabelan identitas berbasis ras dan seksualitas (seperti "the Laotian boy" dan "gay stuff"), generalisasi yang merelatifkan kesaksian korban ("there's two sides to every story"), serta nominalisasi dan bahasa prosedural seperti "internal investigation" yang mengaburkan agensi institusional. Selain itu, eufemisme seperti "just fun and games" digunakan untuk mereduksi kekerasan dalam relasi sesama jenis. Pola-pola kebahasaan ini membangun hierarki kredibilitas yang menempatkan aparat negara dan pelaku sebagai subjek rasional dan legitimatif, sementara korban minoritas diposisikan sebagai emosional, periferal, atau kurang kredibel. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa dalam nedia populer tidak hanya merepresentasikan realitas sosial, tetapi juga berfungsi sebagai praktik sosial yang menormalisasi rasisme eteronormativitas, serta kekuasaan negara melalui mekanisme kebahasaan yang institusional, ampak prosedural dan netral,
Tidak tersedia versi lain