"Cerita Si Marsikkam" merupakan salah satu cerita lisan Simalungun. Cerita ini dikenal di sekitar Kampung Urung-Urung, Kecamatan Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara.
Wouldn't Take Nothing for My Journey Now consists of 24 "journalistic homilies" or "meditations", many of which are autobiographical, that range in number from 63 to a few hundred words. [https://en.wikipedia.org/wiki/Wouldn%27t_Take_Nothing_for_My_Journey_Now]
Hasil penelitian sastra lisan Sangir Talaud menyimpulkan sebagai berikut. Sastra lisan Sangir Talaud dalam bentuk pro sa , dalam hal ini mite, legende, dan fabel mempunyai amanat tersendiri. Amanat itu sekaligus merupakan pandangan penyusun ceritera atau masyarakatnya terhadap nilai yang ada dalam masyrakat pada zamannya, baik nilai tentang yang baik maupun yang tidak baik. Fungsi ceritera baik…
Dalam buku ini, Donny menyinggung tentang ‘kemalasan’ kritikus sastra yang hanya mengulas karya-karya yang dilegalisasi oleh media massa besar, atau pun kalau ada nama baru, ia pasti berasal dari sebuah komunitas yangs angat mapan. “Mengapa tidak ada yang mau turun ke bawah, misalnya ke Yogya atau Bandung di mana kegiatan cultural studiesnya sudah mulai berkembang lewat bendera penerbitan…
Penelitian ini membahas mengenai Jasa Sewa Pacar (Rentaru Kareshi) sebagai fenomena sosial di Jepang.
Mae kembai ke Jatisaba dengan membawa mimpi-mimpi. Mae menebar utopia, berharap orang-orang terjebak masuk dalam praktik perdagangan manusia. Mae tidak punya pilihan, Mayor tua, bosnya, menawan kebebasannya. Namun, pertemuannya dengan Gao-cinta pertamanya- sedikit memengaruhi diri Mae. Namun, hidup tak memberikan waktu. Mae harus segera ambil keputusan; menuruti perintah Mayor Tua, atau menghil…
Raumanen seorang gadis cantik, rajin, independen. Monang seorang pemuda flamboyan, doyan pestam bermobil sedan mengilap mewah merek Impala. Raumanen orang Manado, Monang orang Batak, walaupun keduanya besar di Jakarta. Tentu saja meeka jatuh cinta. Perasaan yang menyusup perlahan-lahan dan baru mereka sadari setelah menjungkirbalikkan semuanya di dunia mereka.
Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an.